Ketika bulan enggan menari
Tatkala malam lebih senang merenung
Hingga lupa, pagi mendesak akan mengganti waktu
Ketika keburukan selalu bermuara, dan tersembur
Dari mulut-mulut tak berotak.
Dari jiwa-jiwa tak kenal belas kasih
Kau tak patut bersedih
Sapa aku disini, dan umpatlah sesekali
“B****sat! gini banget mereka ke aku!”
Lalu dengan sepenuh hati, aku akan menjadi telinga
Kukunci rapat-rapat mulutku.
Atau jemariku, agar tak kubandingkan perihmu dengan deritaku
Dunia memang sedang memburuk kawan
Dan kita menjadi penyaksinya
Kadang menjadi pemain
Tak jarang juga jadi korban
Padahal sering kali tak sadar, tengah menjadi pelaku
Ketika keburukan mampir ke hidupmu kawan.
Ingat
Kau masih punya pilihan.
Akan jadi buruk atau sebaliknya
Jangan contoh mereka
Jangan pula contoh malam ini, ketika ia melamun
Hingga lupa pagi menggantikan hadirnya esok hari.
Anganmu anganku, kadang memabukkan.
Kita meraba dalam ketidakpastian.
Akan jadi apa kita
Anak-anak kita
Cucu kita nanti
Apakah rumah ini masih ada
Apakah mobil ini akan dijual anakku
Apakah aku akan dikubur dengan layak
Seperti apa aku mati
Seperti apa nanti harga barang saat lebaran di tengah pandemi?
Bisakah aku beli baju untuk anakku dan ayahnya?
Sedang pajak dan kebutuhan hidup
Tampaknya tak hilang minat untuk mencekik kita,
Dari hari ke hari, cekikan itu semakin tajam
Mendesak masuk membelah kesadaran
Haruskah hidup berakhir dengan caraku
Atau kuteruskan saja
Tak sadar
Dalam benak salah satu dari kita
Sering kali berpikir
Andaikata Tuhan memberikan jalan mati yang nikmat
Ia akan mengakhiri hidupnya malam ini juga
Sayangnya…. mati sesuai jadwalnya saja menyesakkan jiwa
Apalagi yang dibuat-buat.
Ya…
Tak ada pilihan lagi,
Selain tetap berjuang di masa terburuk kawan.
Meski kata mereka hidup akan semakin memburuk
Setidaknya harapanmu agar semuanya membaik
Serupa titik terang yang kau perlukan.
Tak perlu kembali ke tingkat semula,
Berdiri saja, diatas tempat kau terjatuh.
Kau sudah hebat kawan.
Tak perlu terlalu lama merasa menderita
Kita semua pasti sama-sama menderita.
Rawat dirimu.
Maafkan dirimu, atas kesalahan yang kau buat sebelumnya
Atau maafkan dirimu, atas apa yang tak bisa kau gapai.
Maafkan atas segala yang tak mungkin kau kejar.
Kita manusia
Kalau memakai sepeda lebih mudah dari berlari.
Mengapa memaksa menjadi pelari?
Kalau menjadi tukang pijat lebih mahir
Mengapa memaksa menjadi dokter ?
Kalau menjadi pedagang gorengan lebih mudah dapat pelanggan
Mengapa memaksa membeli ruko hanya untuk menjual hal yang jarang diperlukan orang kebanyakan.
Kalau menjadi tukang bersih-bersih
Tukang jual galon
Tukang nasi goreng, mie ayam. bakso
Bukan hal yang patut dibawa malu.
Kejatuhanmu boleh berkali-kali.
Tapi kau harus bangkit lagi.
Bantu yang lain bangkit kembali
Agar kau yakin
Kebangkitanmu itu, berharga.
Aynana
PS : Hiduplah hidup, Istirahatlah yang Mati. Ingin istirahat tenang, jangan mati dulu. Keep Strong