Semut bertemu denganku pagi ini.
Ia mengaku kehilangan kekasihnya.
Yang dulu sering berbagi lubang di tanah.
Yang sebelumnya selalu angkat gula-gula bersama.
Airmatanya menjadi danau
Ketika ia ceritakan betapa
Rindu telah merusak jantungnya.
Meskipun ia paham bahwa sejak zaman pra sejarah
Semut tak memiliki jantung
Hanya ketika ia bersama dengan kekasihnya
Jantung hati
Tumbuh begitu saja.
“Sudahlah… lupakan saja” kataku
Gula kutumpahkan ke hadapannya.
“Ini bawa ke lubang di dinding rumahku, jatah gula-gula untuk setahun mungkin? kau bahagia?”
Ia menggeleng.
Antenanya bergetar seiring dengan deras tangisnya
Ia berulah
Seolah mengatakan
“Bahkan gula-gula setinggi gunung tak bisa membuatku bahagia. Aku perlu dia disini sekarang juga”
Aku berpikir seribu cara.
Meski semut itu masih asing,
Tapi tak tega meninggalkannya sendirian bersama luka.
Entah mengapa,
Tanganku bekerjasama dengan pikirku.
Kuambil salah satu semut
Kini mereka berdampingan.
“Bukan dia” Semut menunduk
Semut yang baru saja datang,
Berlalu begitu saja.
Kulakukan hal yang sama
Terus menerus
Mengenalkan semut dengan teman barunya
Hingga baru kusadari, kopiku tlah lama mendingin
“Bukan di…”
Kata-kata semut terhenti,
Piring saji menghenyak tubuhnya.
“Oh Tidak!!” keluhku.
Lekas kusisihkan, dan menyaksikan kematian semut
yang masih menggenggam rindu hingga akhir dunia.
Gula-gula di sisinya,
Sampai ujung usia, tak lagi berarti.
Ia hanya rindu padanya.
Semut, yang tak pernah kutahu siapa.
Semut.
Aynana Sflalic